Gusti Allah Mboten Sare: Kenapa Filosofi Simbah Kita Lebih Waras dari Hustle Culture

Coba deh jujur sama diri sendiri. Kapan terakhir kali kamu scroll medsos jam 11 malam, terus lihat orang posting "5 AM club", "rise and grind", atau slide "cara jadi kaya sebelum umur 25", terus tiba-tiba dada kamu sesak sendiri? Bukan karena keracunan, tapi karena panik: "anjir, aku ketinggalan."

Selamat datang di hustle culture, budaya kerja yang bikin rebahan aja rasanya kayak dosa.

Tapi menariknya, jauh sebelum ada "grindset" dan "no days off", orang Jawa udah punya jawabannya sendiri lewat satu kalimat sakti: Gusti Allah mboten sare, Tuhan tidak tidur. Dan ini bukan kalimat penghibur pasrah ala orang kalah. Ini justru filosofi hidup yang, kalau dibedah pelan-pelan, jauh lebih sehat secara mental dibanding budaya kerja 24/7 yang lagi digandrungi anak muda sekarang.

Gusti Allah Mboten Sare: Kenapa Filosofi Simbah Kita Lebih Waras dari Hustle Culture
Kalau kamu ga mudeng ini gbr apa, saya juga ga ngerti. Begitulah AI membuat. Saya hanya menghargai apa yg dibuatnya. Hehe ... 

Dulu 996, sekarang "sleep is for the weak"

Hustle culture bukan tren kaleng-kaleng, ini fenomena global yang datanya beneran mengkhawatirkan. Hustle culture meledak di dekade 2010-an, didorong oleh para pendiri startup, budaya influencer, dan janji manis gig economy, media sosial dipenuhi kutipan motivasi dan video pengusaha yang bangun jam 4 pagi, mengerjakan banyak sumber penghasilan sekaligus, dengan mantra "sleep is for the weak."

Efeknya nggak main-main. Tahun 2019, WHO resmi memasukkan burnout sebagai sindrom dan fenomena okupasional dalam International Classification of Diseases (ICD-11), yang didefinisikan sebagai akibat dari stres kerja kronis yang tidak berhasil dikelola. Ini bukan istilah "kids these days lebay", ini klasifikasi medis resmi.

Datanya makin runyam kalau ditarik ke sekarang. Riset menunjukkan bahwa di Singapura, 68% karyawan Gen Z mengalami burnout akibat pekerjaan pada 2024, sementara di Australia satu dari dua pekerja mengalami burnout antara 2024–2025, dengan 38% menyebut beban kerja yang tidak wajar sebagai penyebab utamanya. 

Dan buat kamu yang mikir "ah kerja keras kan jaminan hasil maksimal", sori, sains bilang enggak juga. Sebuah studi di Journal of Occupational Health menemukan risiko burnout akibat kerja berlipat dua setelah 60 jam kerja per minggu dibanding 40 jam, dan produktivitas mingguan justru menurun setelah 55 jam.

Lucunya, budaya "kerja rodi demi personal branding" ini bahkan dianggap belum cukup ekstrem dibanding beberapa negara. Ada juga pola kerja kontroversial "996" di sejumlah perusahaan Tiongkok, kerja jam 9 pagi sampai 9 malam, enam hari seminggu. Bayangin, dan itu dianggap "budaya kerja keras yang membanggakan" oleh sebagian orang.

Yang paling relate buat generasi kita: burnout ternyata paling parah menghantam usia muda, bukan yang udah senior. Riset lain menyebut orang di rentang usia 18–24 tahun mengalami tingkat burnout tertinggi dibanding kelompok umur lain, ironis, karena justru merekalah yang paling gencar dijejali konten "kerja keras di usia muda biar sukses cepat".

Nrimo itu bukan nyerah, ini strategi bertahan hidup yang canggih

Nah, di sinilah filosofi Jawa masuk dan, jujur aja, kedengarannya jadul, tapi isinya jauh lebih modern dari yang kita kira.

Gusti Allah mboten sare bukan berarti "udah, diem aja, serahin semua ke Tuhan, ga usah usaha." Justru sebaliknya. Kalimat ini adalah pengingat bahwa ada batas antara apa yang bisa kamu kontrol dan apa yang bukan wilayah kamu. Kamu boleh usaha semaksimal mungkin, tapi hasil akhir bukan sepenuhnya di tangan kamu, dan itu oke. Tuhan nggak tidur, artinya nggak ada usahamu yang sia-sia dan luput dari perhitungan, meskipun hasilnya nggak instan kelihatan.

Ini berpasangan sama satu konsep lagi: narimo ing pandum, menerima bagian (takdir/rezeki) dengan lapang dada. Banyak yang salah paham ini sebagai sikap pasif, padahal dalam filsafat Jawa, "narimo" itu posisinya setelah ikhtiar, bukan pengganti ikhtiar. 

Urutannya begini: kamu berusaha total, lalu apapun hasilnya, kamu terima dengan tenang tanpa menyiksa diri sendiri dengan perbandingan atau penyesalan berlebihan.

Bandingkan dengan mental hustle culture yang bilang: "kalau kamu belum sukses, berarti kamu belum cukup grind." Filosofi ini menaruh 100% beban psikologis di pundak individu, seolah alam semesta, timing, privilege, dan keberuntungan itu nggak eksis. 

Padahal riset burnout justru bilang sebaliknya: burnout paling sering muncul karena tekanan "harus selalu on dan selalu bekerja" yang datang dari budaya, bukan karena orangnya kurang niat.

"Alon-alon asal kelakon" vs FOMO produktivitas

Ada satu peribahasa Jawa lain yang sering disalahartikan: alon-alon asal kelakon, pelan-pelan yang penting tercapai. 

Banyak yang mengira ini pembenaran untuk males-malesan. Padahal maknanya soal ritme, bukan kecepatan nol. Ini falsafah yang menghargai proses dan konsistensi jangka panjang, dibanding ngebut di awal terus kolaps di tengah jalan (yang justru pola paling umum di kalangan hustler muda).

Ada juga konsep sumeleh, sikap tenang, tidak grusa-grusu (buru-buru), tidak reaktif terhadap tekanan luar. Sumeleh itu ibarat kamu naik motor di jalan macet: kamu tetep jalan, tetep punya tujuan, tapi nggak ngegas-ngerem panik cuma karena mobil di sebelah kamu nyalip duluan.

Dan yang paling dalam mungkin urip iku urup, hidup itu (harus) menyala, memberi manfaat untuk sekitarnya. Tujuan hidup dalam pandangan ini bukan validasi personal ("aku udah capai goals-ku sendiri duluan dari orang lain"), tapi soal cahaya itu berguna buat siapa. Ini kontras banget sama hustle culture yang cenderung individualistik: sukses jadi kompetisi personal, bukan kontribusi komunal.

Kenapa filosofi "lambat" ini justru lebih waras secara sains

Ini bukan sekadar nostalgia budaya. Kalau ditelaah, apa yang dianjurkan filosofi Jawa ini justru sejalan dengan riset kesehatan mental modern:

  1. Menerima ketidakpastian mengurangi kecemasan kronis. Riset psikologi soal acceptance (bukan pasrah pasif, tapi menerima yang di luar kendali) terbukti mengurangi gejala kecemasan dibanding pola pikir yang menuntut kontrol penuh atas hasil.
  2. Ritme kerja yang stabil lebih produktif ketimbang ngebut. Seperti data di atas soal produktivitas yang justru turun setelah 55 jam kerja, persis yang diperingatkan "alon-alon asal kelakon".
  3. Makna sosial (bukan cuma pencapaian personal) adalah pelindung terhadap burnout. Orang yang bekerja demi kontribusi ke orang lain (mirip konsep "urip iku urup") cenderung lebih tahan banting dibanding yang bekerja murni demi validasi diri atau kompetisi.

Jadi, gimana? Rebahan aja terus dong?

Bukan gitu juga. 

Poinnya bukan "berhenti berusaha", tapi tahu di mana harus ngerem ego. Hustle culture itu ibarat gas pol tanpa rem, keliatan keren pas awal tancap, tapi ujung-ujungnya nabrak (baca: burnout, kesehatan mental ambruk, atau bahkan kesehatan fisik ikut kena, mengingat WHO juga mencatat risiko kematian akibat stroke dan penyakit jantung yang terkait jam kerja berlebihan).

Filosofi Gusti Allah mboten sare justru menawarkan sesuatu yang lebih berkelanjutan: usaha total, tapi lepas dari ilusi bahwa kamu harus mengendalikan segalanya sendirian. Kadang, cara paling produktif buat generasi yang serba cemas ini bukan menambah satu lagi "morning routine 5 jam", tapi belajar percaya bahwa nggak semua harus diselesaikan hari ini, jam ini, dengan tangan kita sendiri.

Slow living ala Jawa bukan males. Itu skill.


Ditulis buat siapapun yang lagi capek dikejar target sendiri. Pelan-pelan aja, Gusti mboten sare kok.

Posting Komentar

Silahkan berkomentar dan berikan pendapat Anda tentang tulisan di atas.