Sampai sekarang, saya masih selalu minder kalau diajak makan di restoran besar yang mewah. Strategi aman saya cuma satu: duduk manis, pura-pura sibuk main HP, dan menunggu orang lain mengambil makanan atau memegang alat makan duluan. Setelah melihat polanya, baru saya ikut-ikutan. Jujur, saya tidak tahu caranya.
Rasa kikuk itu selalu muncul tiap kali kaki ini melangkah di atas lantai marmer yang mengkilap, disambut pelayan dengan pakaian necis yang membungkuk terlalu formal, hingga melihat deretan garpu, pisau, dan gelas yang berjejer di meja seperti perangkat upacara militer. Alih-alih merasa lapar, isi kepala saya malah penuh dengan kecemasan: “Ini pisau buat daging atau buat roti? Kalau sendok ini bunyinya berdenting keras saat kena piring, apakah saya akan dianggap tidak berpendidikan?”
Ketakutan-ketakutan sepele ini membuat saya berpikir. Mengapa sebuah kegiatan sekadar "mengisi perut" bisa terasa begitu mengintimidasi?

Setelah merenung (dan sedikit membaca ulang sejarah), saya sadar kalau rasa minder ini bukanlah cacat kepribadian saya. Ini adalah sisa-sisa trauma kultural, sebuah warisan tak kasatmata dari era kolonial yang sukses menjajah mentalitas kita, bahkan setelah ratusan tahun kompeni angkat kaki.
Di era kolonial dulu, tata cara makan Barat (table manners) sengaja diciptakan oleh para meneer Belanda bukan cuma sebagai etiket, melainkan sebagai pembatas kelas sosial. Meja makan adalah benteng pertahanan untuk memisahkan antara si penguasa berkulit putih dengan kaum pribumi yang mereka sebut inlander. Siapa yang tidak tahu cara memotong steik dengan benar akan langsung dicap "kurang beradab" dan tidak layak masuk ke lingkaran sosial atas.
Ironisnya, meski Belanda sudah tidak ada, arsitektur mental itu masih kita rawat baik-baik hari ini. Kita sering kali mendewakan standarisasi Barat. Kita merasa naik kelas kalau bisa makan di restoran yang menunya ditulis pakai bahasa asing yang susah dieja, walau setelah pulang dompet kita menangis dan perut kita sebenarnya rindu sambal korek.
Kondisi ini berbanding terbalik 180 derajat jika saya pulang ke pelukan kultur kita sendiri.
Saya selalu merasa menjadi manusia yang utuh dan merdeka sepenuhnya justru saat makan di warung penyetan pinggir jalan, atau saat duduk lesehan di acara kenduri desa. Di sana, tidak ada hierarki. Etiketnya begitu sederhana dan membebaskan: cuci tangan di mangkuk obokan, pakai tangan telanjang, dan nikmati makanannya. Makan dengan cara kembulan (bersama-sama) mengutamakan kehangatan, obrolan yang mengalir, dan rasa syukur—bukan ketakutan akan salah memegang garpu.
Mungkin sudah saatnya kita berdamai dengan rasa minder itu. Lain kali jika saya diajak ke restoran mewah dan masih bingung harus berbuat apa, saya akan memilih untuk tersenyum. Rasa kikuk itu adalah pengingat ramah bahwa tubuh dan jiwa saya seutuhnya adalah milik tanah ini, tanah yang lebih mengenali hangatnya nasi yang disuap jemari, ketimbang dinginnya sendok perak warisan kolonial.

Posting Komentar